Ada yang istimewa pada penyelenggaraan talkshow “Badan POM Sahabat Ibu” tanggal 20 Maret 2014, karena pesertanya adalah ibu-ibu yang tergabung dalam Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) Jilid 2. Hadir pada acara tersebut antara lain Ibu Rossi Anton Apriyantono, Ibu Meutia Azwar Abubakar, Ibu Ceffi Eko Prasojo, Ibu Inayati Ali Ghufron, Ibu Gusnawirta Fasli Jalal, Ibu If Wardana, Ibu Umi Rusman, Ibu Ermi Susilo, dan Ibu Lusie Bambang Susantono. Mereka adalah jajaran pimpinan tertinggi Dharma Wanita dari Kementerian Pertanian, Kementerian PAN dan RB, Kementerian Kesehatan, BKKBN, Kementerian Luar Negeri, Kementerian ESDM, dan Kementerian Perhubungan.
Kepala Badan POM, Roy A. Sparringa menyempatkan diri membuka acara disela-sela kesibukannya yang harus menghadiri kegiatan di Semarang pada waktu yang bersamaan. Dalam sambutannya, Pak Roy, demikian sapaan sehari-hari Beliau, yang hari itu didampingi oleh Bu Roy berseloroh bahwa pegawai Badan POM hampir 70% adalah wanita, sehingga beliau sudah terbiasa bekerja bersama Dharma Wanita. “Kami senang, bisa bertemu dan berbagi informasi dengan ibu-ibu anggota SIKIB. Kami berharap apa yang ibu-ibu dapatkan hari ini dapat dibagikan kembali kepada teman, kerabat, dan kenalan yang lain. Mari kita bersama-sama melindungi diri dan masyarakat agar terhindar dari Obat dan Makanan yang berisiko terhadap kesehatan” lanjutnya.
Sembilan orang “Ibu Istimewa” ini hadir bersama anggotanya masing-masing dan mendapatkan informasi mengenai bahaya obat palsu dari Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapeutika dan NAPZA, Ibu Retno Tyas Utami yang dibungkus dalam presentasi berjudul “STOP: Supaya Terhindar Dari Obat Palsu”. “Sekarang ini, di pasaran masih banyak beredar obat ilegal termasuk palsu. Jangan sampai Ibu-ibu mengkonsumsi obat ilegal termasuk palsu ini, karena membahayakan kesehatan. Obat ilegal termasuk palsu berdampak buruk bagi kesehatan, karena membuat kondisi pasien tidak membaik, dapat menyebabkan komplikasi, keracunan, bahkan kematian serta meningkatkan biaya pengobatan”, jelasnya. “Tidak terdaftar di Badan POM, bentuk/warna/rasa/tekstur obat dan kemasan tidak seperti biasanya, serta tidak mencantumkan nama dan alamat produsen, adalah beberapa ciri obat palsu yang bisa segera ibu-ibu kenali”, tambahnya.
Talkshow ditutup dengan presentasi mengenai website Badan POM dari Pusat Informasi Obat dan Makanan, serta demo cara uji cepat kandungan bahan berbahaya dalam pangan menggunakan “Rapid Test Kit” oleh Tim Balai Besar POM di Jakarta. Seluruh peserta merasa puas dengan penyelenggaraan kegiatan ini dan berharap dapat bekerja sama kembali untuk program-program sejenis di lain waktu. Ingat “WTP” Waspada, Teliti dan Peduli, sebelum membeli dan mengkonsumsi obat agar terhindar dari obat palsu. HM-05
Biro Hukum dan Humas
